Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sup Batu

NOMOR1.com

Sup Batu

Pada suatu hari, tiga orang bijaksana berjalan melintasi sebuah desa kecil.

Desa itu tampak miskin. Tampak dari sawah-sawah sekitarnya yang sudah tidak
menghasilkan apa-apa lagi. Ya, memang telah terjadi perang di negeri itu - dan
sebagai rakyat jelata - merekalah yang kena dampaknya. Macetnya distribusi pupuk,
bibit, dan kesulitan-kesulitan lain membuat sawah mereka tidak mampu menghasilkan
apa-apa lagi. Cuma beberapa puluh orang yang masih setia tinggal di desa itu.
Sekonyong-konyong beberapa orang mengerubuti tiga orang bijaksana itu. Dengan
memijit-mijit tangan dan punggung tiga orang itu, orang-orang desa memelas dan
meminta sedekah, roti, beras, atau apalah yang bisa dimakan.
Satu dari tiga orang bijaksana itu lalu bertanya kepada penduduk desa itu,
“Apakah kalian tidak punya apa-apa, hingga kalian meminta-minta seperti
ini ?”
“Kami tidak memiliki apapun untuk dimakan, hanya batu-batu berserakan
itu yang kita miliki.” Jawab salah satu penduduk desa.
“Maukah kalian kuajari untuk membuat sup dari batu-batu itu ?”
tanya orang bijaksana sekali lagi.

Dengan setengah tidak percaya, penduduk itu menjawab, “Mau..”
“Baiklah ikutilah petunjukku.” Orang bijaksana itu menjelaskan,
“Pertama-tama, ambil tiga batu besar itu, lalu cucilah hingga bersih !”
perintah orang bijaksana sambil menunjuk tiga buah batu sebesar kepalan tangan.
Orang-orang pun mengikuti perintahnya.
Sesudah batu itu dicuci dengan bersih hingga tanpa ada pasir sedikitpun di
permukaannya. Orang bijaksana itu lalu menyuruh penduduk untuk menyiapkan panci
yang paling besar dan menyuruh panci itu untuk diisi dengan air. Ketiga batu
bersih itupun lalu dimasukkan ke dalam panci - dan sesuai dengan petunjuk orang
bijaksana itu - batu-batu itupun mulai direbus.
“Ada yang dari kalian tau bumbu masak ? Batu-batu itu tidak akan enak
rasanya jika dimasak tanpa bumbu.” Tanya orang bijaksana.
“Aku tahu !” seru seorang ibu, kemudian ia mengambil sebagian persediaan
bumbu dapurnya, kemudian meraciknya, dan memasukkannya kedalam panci besar itu.

“Adakah dari kalian yang memiliki bahan-bahan sup yang lain ?”
Tanya orang bijaksana itu. “Sup ini akan lebih enak jika kalian menambahkan
beberapa bahan lain, jangan cuma batu saja.”
Beberapa penduduk mulai mencari bahan-bahan makanan lain di sekitar desa. Beberapa
waktu kemudian dua orang datang dengan membawa tiga kantung kentang. “Kami
menemukannya di dekat kali, ternyata ada banyak sekali kentang liar tumbuh disana.”
Katanya. Kemudian orang itu mengupas, encuci, dan memotong-motong kentang-kentang
itu dan memasukkannya ke dalam panci.
Kurang dari satu menit, seorang ibu datang dengan membawa buncis dan sawi.
“Aku masih punya banyak dari kebun di belakang halaman rumahku.”
Kata ibu itu, lalu ibu itu meraciknya dan memasukkannya ke dalam panci.
Sesaat, datang pula seorang bapak dengan tiga ekor kelinci di tangannya. “Aku
berhasil memburu tiga ekor kelinci, kalau ada waktu banyak, mungkin aku bisa
membawa lebih lagi, soalnya aku baru saja menemukan banyak sekali kawanan kelinci
di balik bukit itu.” Dengan bantuan beberapa orang, tiga kelinci itu pun
disembelih dan diolah kemudian dimasukkan ke dalam panci.

Merasa telah melihat beberapa orang berhasil menyumbang sesuatu. Penduduk-penduduk
yang lain tidak mau kalah, mereka pun mulai mencari-cari sesuatu yang dapat
dimasukkan ke dalam panci sebagai pelengkap sup batu.
Kurang dari satu jam, beberapa penduduk mulai membawa kol, buncis, jagung,
dan bermacam-macam sayuran lain. Tak hanya itu, anak-anak juga membawa bermacam-macam
buah dari hutan. Mereka berpikir akan enak sekali jika buah-buah itu bisa dijadikan
pencuci mulut sesudah sup disantap. Ada pula seorang bapak yang membawa susu
dari kambing piaraannya, dan ada pula yang membawa madu dari lebah liar yang
bersarang di beberapa pohon di desa itu.
Beberapa jam kemudian sup batu itu telah matang. Panci yang sangat besar itu
sekarang telah penuh dengan berbagai sayuran dan siap disantap. Dengan suka
cita, penduduk itu makan bersama dengan lahapnya. Mereka sudah sangat kenyang,
hingga mereka lupa ‘memakan’ batu yang terletak di dasar panci.
Tiga orang bijaksana itu hanya tersenyum melihat tingkah para penduduk itu.
Dan mereka pun sadar, sekarang waktunya mereka untuk meneruskan perjalanan.
Mereka mohon diri untuk meninggalkan desa itu.
Sebelum beranjak pergi, seorang bapak sekonyong-konyong memeluk dan menciumi
ketiga orang itu sambil berkata, “Terima kasih telah mengajari kami untuk
membuat sup dari batu....”

Untuk Mendapatkan Kisah Inspiratif lain nya :

FREE LOGIN Via Facebook
Telah Dibaca oleh Pengunjung
Rating: 4.5
Reviewer: AchiyaK Deni
Description: Sup Batu
ItemReviewed: Sup Batu
Anda sedang membaca artikel tentang Sup Batu dan bila berkenan Anda bisa share artikel Sup Batu ini dengan tombol share di bawah. Bila Anda bermaksud COPAS artikel Sup Batu untuk diposting di blog Anda, mohon untuk meletakkan link Sup Batu sebagai Sumbernya dengan mengcopy kode di bawah ini.

Get this widget


Category Article ,